Tips 6 Cara Wawancara Dengan Tokoh Politik

Berdasarkan beberapa pengalaman mendekati tokoh politik seperti ini memerlukan beberapa jalan.
Jika Anda berada di lapangan dan sedang meliput, inilah waktu yang tepat mendekati mereka.

1. Dekati langsung dan buat janji wawancara. Buatlah Anda terlihat penting untuk mewawancarainya dan serius memintanya. Tatap muka merupakan kesempatan Anda untuk membujuk dia tatap muka. Lupakan siapa media Anda tetapi fikirkan diri Anda untuk mengemukakan argumentasi betapa pentingnya nara sumber atau sang tokoh untuk diwawancarai. Tentu saja dalam kasus tertentu yang penting mendekati nara sumber tidaklah gampang. Tapi jelas ada selalu acara untuk menemuinya.

Ketika saya wawancara Mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia sesaat setelah dipecar, saya mendekati dia melalui teman-teman dekatnya. Saat saya bertemu Aung San Suu Kyi, saya meminta bantuan warga disana yang bisa bahasa lokal dan menjalin perjanjian untuk wawancara. Saat saya bertemu Nur Misuari di Mindanao selatan, saya juga melalui stafnya untuk membuat janji wawancara. Saat saya bertemu Aung San Suu Kyi, saya meminta bantuan warga disana yang bisa bahasa lokal dan menjalin perjanjian untuk wawancara. Saat saya bertemu Nur Misuari di Mindanao selatan, saya juga melalui stafnya untuk membuat janji wawancara.

2. Jika Anda sudah mendapatkan janji, lakukan riset sedikit mengenai topik-topik aktual untuk ditanyakan kepada nara sumber utama itu. Siapkan pertanyaan sebanyak mungkin dan lakukan secara sistematis sehingga satu pertanyaan bersambung ke pertanyaan berikutnya. Jangan membuat nara sumber jengkel. Misalnya dengan menanyakan, Yang betul itu nama baka Soekarna atau Sukarna. Data dasar mengenai nara sumber harus sudah di tangan.

3. Jika Anda sudah berada di depan nara sumber, tampilkan diri Anda secara sejajar. Mental Anda harus siap menghadapi nara sumber yang dari segi nama dan posisi mungkin cukup tinggi. Namun Anda sama pentingnya sebagai pewawancara karena nilai aktual berita yang Anda siarkan atau cetak sama pentingnya. Kebanyakan jurnalis tidak bisa memiliki mental sejajar atau setidaknya percaya diri karena mungkin posisi dan budaya wartawan di Indonesia masih ditempatkan dalam posisi rendah, mengejar-ngejar berita dan kadang-kadang dilecehkan. Anda harus tanamkan tidak masuk dalam kategori itu karena profesi jurnalistik di seluruh dunia berada bersama Anda. Jurnalis yang duduk bersama Presiden Amerika atau Perdana Menteri Inggris sama profesinya dengan Anda. Jadi siapkan mental Anda.

4. Kendalikan wawancara menurut jadwal yang sudah disiapkan. Anda datang melakukan wawancara bukan untuk menjadi juru bicara nara sumber namun untuk menggali informasi sesuai dengan arahan editor atau produser sehingga semuanya dipandu dengan agenda. Jika nara sumber berusaha berkelit dengan mengatakan ya atau tidak, ulang pertanyaan Anda dengan kalimat berbeda. Misalnya: jadi Anda mengatakan bahwa kecelakaan pesawat Garuda merupakan kesalahan departemen Anda karena tidak ada pengawasan ? Dengan mengulang pertanyaan itu diharapkan nara sumber tidak menjawab ya atau tidak. Dalam isu yang sensitif kecenderungan adalah seperti itu tetapi sebagai jurnalis yang sedang melakukan wawancara jangan lupa tetap mengendalikan dan sadar akan kalimat-kalimat penting yang sedang direkam.

5. Jangan berdebat. Kebiasaan wartawan yang kurang tepat berdebat dengan nara sumber. Sebaiknya hindari perdebatan. Anda datang untuk merekam pendapat dan opini bukan berdebat. Anda datang untuk mengkonfirmasi beberapa pendapat yang telah dikemukakan atau belum dikukuhkan oleh nara sumber. Hindari perdebatan karena tidak akan menghasilkan apa-apa. Politisi berpengalaman cenderung mengendalikan wartawan. Jadi berhati-hati dalam wawancara sehingga Anda tidak menjadi juru bicara mereka.

6. Sesudah selesai wawancara, Anda tidak lupa mengucapkan terima kasih dan menyampaikan rasa hormat atas segala pendapat dan pandangan nara sumber. Seandainya ada ganjalan di sisi jurnalis karena tidak puas dalam jawaban topik tertentu, Anda harus menahan diri untuk tidak mencercanya sesudah wawancara. Hubungan yang baik dengan nara sumber patut dipertahankan untuk kepentingan wawancara di masa mendatang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s